Langsung ke konten utama

Ulasan “Aleph” Karya Paulo Coelho

  Identitas Buku  Judul: Aleph Penulis: Paulo Coelho Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2013 Jumlah halaman: 302 halaman. Cerita Singkat Sudut pandang tokoh utama ada penulis sendiri. Di sini penulis menceritakan pengelamannya melakukan perjalanan sejauh 9.288 km, yakni perjalanan melaui jalur kereta api Trans-Siberia, dari Moscow menuju Vladivostok. Penulis melakukan perjalanan bersama orang-orang yang bekerja dengan dirinya penerbit dan editor. Selain itu, ia juga mengajak orang lain yang ia kenal baru saja saat memulia perjalanan tersebut. Sebetulnya perjalanan ini telah dilakukan penulis sebelumnya. Namun, ia melakukan lagi dengan misi untuk menemukan aleph, energi dari kerajaannya sendiri. Di sini penulis menceritakan tempat-tempat yang pernah ia kunjungi, orang-orang yang pernah ia temui dan kenali, hingga pengalaman-pengalaman baik pahit maupun menyenangkan yang ia alami. Hal ini semua ia lakukan untuk menemukan aleph. Keunggulan Novel Penulis benar-benar...
BUKBER

     Tergesa-gesa aku menuju rumah. Hari sudah sore. Sebentar lagi bedug tiba. Namun karena keterbatasan memori dan padatnya kegiatan selama seminggu ini, aku telah melupakan acara yang telah dinanti-nanti selama beberapa minggu ini. Sore ini aku dan mantan kawan-kawan SMA akan melakukan reuni bersama, sambil berbuka puasa tentunya, setelah lima tahun terpisah dengan kesibukan masing-masing. 

     Tiba -tiba, entah dari mana, dan bagaimana, Silvia menghubungi ketika aku tengah tenggelam dalam lautan silabus, RPP, LPJ, serta meeting Ramadhan Camp. Sempat berusaha keras untuk menyingat sosok Silvia yang berkata-kata dengan penuh semangat diujung telepon sana tiga minggu yang lalu. Dia menceritakan betapa susahnya menemukan nomor kontakku. Bertanya sana sini hingga membongkar aneka media sosial yang sedang in saat ini hingga yang jadul yang hanya diketahui oleh  orang-orang kelahiran tahun tertentu.

  Alhamdulillah...kini ia berhasil menemukanku. Bisa kalian bayangkan kan bagaimana bahagianya ia ketika aku mengkonfirmasi kebenaran semua kriteria tentang aku yang is sebutkan selama menelepon? Aku pun akhirnya berhasil menampakkan figur Silvia dalam benakku. Setelah membongkar-bongkar long term memory dan short term memory, akhirnya kutemukan sosok Silvia, perempuan yang saat SMA bertubuh kecil, kulit putih, rambut pendek sebahu, serta selalu melibatkan teman-temannya untuk membuat acara sekolah maupun liburan sekolah bersama.

      Kami pun bercakap-cakap panjang kali lebar. Saling menanyakan kabar masing-masing, kesibukan yang sedang dilakukannya, serta akhirnya muncullah ide untuk mengumpulkan semua teman-teman satu kelas kami. Nah, ini pun menjadi berita mengejutkan selanjutnya.

     Berhubung aku adalah sosok terakhir yang berhasil ditemukan, akhirnya. Maka Silvia dengan bangganya menentukan tempat reuni di tempat aku tinggal sekarang ini. Waktunya ya sekarang ini saat bukber. Untuk seksi humas, sudah tentu Silvia yang akan mengurus semua kehadiran teman-teman almamater ini.

     Selama bulan Ramadhan, sekolah tempatku bekerja memberikan kebijakan para karyawannya untuk pulang  pukul 14.00. Namun, memang dasar akunya, masih berusaha membereskan PR-PR masa lalu yang belum tuntas hingga muncul WA dari Bimo menanyakan alamat lengkap acara bukber nanti. 

      MasyaAllah! Hari ini ada bukber? Aku langsung terperanjat. Melihat jam di dinding hampir waktu ashar. Aku langsung beres-beres. Terdengar suara azan ashar. Aku pun langsung sholat bersama teman-teman yang lain.

     Inilah yang membuat aku sekarang berada di posisi ini. Aku berada di tengah-tengah pasar kaget yang penuh dengan orang-orang yang menjual dan akan membeli aneka takjilan, lauk, dan segala pernak-pernik Ramadhan. Sebenarnya aku tidak suka berada di pasar. Silvia pun tahu itu. Makanya, ia langsung memutuskan tempat acara di rumahku.  Ini hukuman karena aku sibuk di dalam bumi sehingga mereka kesulitan menemukanku, ungkapnya waktu itu sambil tertawa. 

Heeh...ya sudahlah. Demi membahagiakan mereka yang sudah lama tak bertemu, aku pun menyetujui saran Silvia. Jadi disinilah aku berada. Ditengah lautan takjil yang beraneka warna, serta aroma-aroma sedap yang mengguncang kedamaian kerongkongan hingga perutku. Akhirnya kuputuskan saja tuk mengambil beberapa aneka takjilan serta lauk, lalu bersegera beranjak dari situ untuk menyiapkan dan menyambut teman-teman bukber di rumahku.

#RWCODOP2018
#onedayonepost
@komunitas.odop




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kan Ku Panjat Tebing Itu!

Nayla beraksi Hari itu adalah hari Sabtu.  Kebetulan Sabtu pagi itu kami semua tidak ada kegiatan belajar dan mengajar.  Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba kegiatan rock climbing di Plaza Festival,  Jakarta.  Sudah lama aku tidak mengunjungi daerah itu.  Terakhir ke sana saat aku masih mengerjakan skripsi,  mencari bahan landasan teori di perpustakaan Soemantri. Itu sekitar 20-23 tahun yang lalu! 😱 😆 Sudah banyak perubahan yang terjadi di sekitar Kuningan, jalan H.R Rasuna Said.  Dengan mengendarai motor, kami celingak-celinguk mencari gedung Plaza Festival.  Tak lama, kami pun menemukannya.  Segera saja memutar balik arah motor menuju pintu masuknya lalu parkir. Terus terang,  suasana di belakang Plaza Festival tidak banyak berubah.  Beda sekali dengan tampak depannya.  😁  Kami pun langsung menemui salah seorang kenalan yang mengenalkan dengan kegiatan panjat tebing ini. Kami tiba di sana pk. 07.00....

Sepenggal Kisah Abdurrahman bin 'Auf

https://inspirasigirly.com/abdurahman-bin-auf-manusia-bertangan-emas-1/ ABDURRAHMAN BIN AUF SELALU GAGAL JADI ORANG MISKIN Jika saya sedang mengalami keterpurukan dalam usaha usaha saya, semangat down, maka saya selalu bermuhasabah diri dengan mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk. Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf r.a akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama. Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf r.a pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal. Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh. Abdurrahman bin Auf r.a pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi  dengan harga kurma bagus. Semuanya bersyukur.. Alhamdulillah.. kurma yang dikhawatirkan tidak lak...